Jumat, 27 November 2009
Sabtu, 21 November 2009
Rabu, 18 November 2009
Kamis, 12 November 2009
Senin, 09 November 2009
Arsene is for Arsenal ! ONLY !
Jumat, 30 Oktober 2009
Photoshot Bersama Mereka
Selasa, 27 Oktober 2009
Seri Street Photography : Kota Lama Bagian 1















Senin, 26 Oktober 2009
Sundak Terlalu Malam






Minggu, 04 Oktober 2009
Senin, 14 September 2009
Pohon Ek dan Sepucuk Surat
Pohon Ek dan Sepucuk Surat
Hamparan rumput itu kembali menjadi hijau, seperti setahun yang lalu. Pohon ek yang dipenuhi dedaunan yang membuat serasa dipayungi mendung bagi siapa saja yang berteduh di bawahnya. Sesegera mungkin aku menuju ke bawah pohon ek, tak sabar merasakan sejuk rindang daunnya. Setiba di pohon ek, aku duduk, bersandar pada batangnya, melepas topi anyamanku, meletakkan sepucuk surat dari seorang sahabat pena, dan mulai menikmati desir semilir angin damai. Aku meraba – raba batang pohon, mencoba mencari bekas guratan tulisan, yang setahun lalu aku goreskan. Aku menemukannya, sudah mulai tumbuh kulit kayunya, tapi masih terbaca dengan samar. “Happiness”, begitu tulisannya, dan aku mulai mememori segalanya,setahun yang lalu, di tempat yang sama, di bawah pohon ek ini.
Aku bersandar di pohon ek, tersenyum melihatnya mengoleskan butter ke selapis roti tawar, menambahkan selada, keju lembaran, dan mustard ke atasnya. “Selesai ! Makanlah, sebelum aku makan, karena tampaknya ini sangat lezat!” katanya. Segera aku meraih sandwich itu dari tangannya, “Bagianmu yang berikutnya saja, ini begitu menggiurkan, hmmm!”. Dia meraih roti tawar kedua dan kembali mengolesinya dengan butter, menambahkan selada, keju lembaran, dan mustard ke atasnya. Kami mulai makan dengan nikmatnya, seakan lupa bahwa selada itu belum sempat dicuci. “Segar sekali” kataku sembari mengunyah, dan mustard meleleh jatuh ke karpet motif kotak-kotak hijau kuning yang mirip dengan motif kemeja flanel yang kukenakan. “ Janganlah kau berbohong hanya untuk menyenangkan hatiku!”katanya membalas. “Benar, ini yummy sekali, terenak selama hidupku!”. Dia menjulurkan lidahnya yang penuh mustard, “Bweeh” 10 menit kami menyelesaikan sesi kudapan sederhana itu, dan kami mulai membicarakan kehidupan yang tiada habisnya. “Bagaimana kabar pekerjaanmu?”, tanyaku. “ Wuiih, mengesankan sekali, ini yang sangat kudambakan, menyenangkan sungguh menyenangkan, bagaimana denganmu?”, katanya membalas pertanyaanku. “Melelahkan, tetapi ini juga yang aku damba, keinginan pribadi, benar-benar surga, hahaha”, tawaku terdengar keras. Lalu kami sempat diam beberapa detik, saling berpandangan mata, tapi tak lama dia menundukkan pandangan matanya. “ Hei, janganlah suka melihatku seperti itu, membuatku takut” sahutnya. “Kenapa, ini pandangan kekaguman, kekagumanku padamu”, ucapku, dan senyumku terkembang seperti bunga sakura di musim sakura. “Ah, biasa saja, apa yang mengagumkan dariku?”, tanyanya. Masih tersenyum, aku mengangkat kedua bahu, dan berkata, ”Entahlah, senyum lolipopmu, rambutmu yang hitam, bahasa tubuhmu, nada tertawamu yang lucu, kemeja yang kau kenakan, scarf polkadot-mu, semua memancarkan kebahagiaan!”, lalu dia menghela nafas dengan nada tidak percaya.
Mataku masih lekat memandang wajahnya. Tanpa terduga walaupun diharapkan terjadi, tangan kanannya meraih tangan kiriku, ibu jarinya mengelus lembut jemariku, tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Hening, keheningan ini berjalan beberapa detik, hingga beberapa menit. Mulutku terkunci, kepalaku mulai rontok berguguran di karpet kotak-kotak kami, aku tak paham yang terjadi, hanya gelora hangat di sekujur tubuh. Kutatap wajahnya, dan matanya bertemu mataku, dan dia tersenyum, manis, sangat manis, surga dunia ternyata juga ada di senyumnya, selain di telapak kaki ibu. Kepalanya direbahkan di bahu kiriku, pipiku bersentuhan dengan rambutnya yang hitam wangi apel. Kami tidak berkata-kata, tidak pula ber-euforia, tapi senyumannya, sentuhan tangannya, mengajarkan aku kebahagiaan, kebahagiaan yang aku lupa entah kemana selama ini bersembunyi.
Dia melihat arloji rantai di tangannya, menunjuk-nunjuk arlojinya dan kami beranjak dari karpet, membereskan segala yang berserakan di atasnya dan melipat karpet. Aku masih tak tahu harus berkata apa, begitu juga dirinya. Kami lagi-lagi berpandangan mata, masih berpegangan tangan. “Sini-sini”, dia memecah keheningan seraya mendekatkan kepalanya ke kepalaku. Sebuah kecupan di pipi kiriku, memompa jantung lebih cepat, naik ke kepala memerahkan pipi. Lama aku hening, dan akhirnya aku berkata, “ini terlalu hebat untuk terjadi.” Tak lama kami pun berpisah, lama sekali aku melepas genggaman tangannya, tidak ingin rasanya. Dia pergi ke arah selatan. Dikayuh sepedanya dengan kencang, dan aku ke arah utara, berjalan kaki. Beberapa ratus meter aku melangkah, aku mendadak menghentikan langkah dan segera berlari kembali ke pohon ek itu. Setibanya aku di pohon ek, kukeluarkan pisau pemotong selada dari tas punggungku. Kugores kulit pohon ek itu dengan pisau tadi. “Happiness”, begitulah bunyi dari goresan itu. Aku memasukkan kembali pisau itu ke dalam tas punggungku, dan bergegas jalan menuju utara, tanpa sadar aku menitikkan air mata, kebahagiaan atau kesedihan aku tak bisa memutuskan.
Kubuka mataku, mengambil pucuk surat yang tadi aku letakkan, mulai kubaca isinya, dan aku melihat senyumnya yang semanis lollipop, kurasa lagi kebahagiaan yang sama seperti setahun yang lalu. Kata-kata tidak bisa menggambarkan apa yang aku rasakan saat ini, seperti guratan kata pada pohon ek yang sudah tidak bisa lagi kurasakan dengan tanganku. Kurasakan Happiness jelas di kepalaku, seluruh tubuhku, dan aku bersyukur akan dirinya yang mengajarkan aku kebahagiaan.
Sabtu, 12 September 2009
Endah n Rhesa - Nowhere To Go

Kamis, 10 September 2009
Rabu, 09 September 2009
Minggu, 06 September 2009
Karena Kesed adalah Welcome : Still Life Vol.2
Maka mari membersihkan kaki kita
Still Life Vol. 2
Kamis, 03 September 2009
Terima Kasih Atas Dibuangnya Buku Ini









Buku ini terdiri dari 6 chapter yang berisi mengenai perjalanan hidup dan karir Michael Jordan (walaupun saya hanya melihatnya dari foto-foto yang menawan itu). Mulai dari Michael Jordan saat masih menjadi rookie musim 1985-1986, hingga saat Michael akhirnya memutuskan untuk mengakhiri karirnya bersama Washington Wizard (akhirnya Michael menjadi salah satu direktur di Washington Wizard karena kepemilikan sahamnya).
Betapa mautnya buku ini sehingga membuat saya terkejat-kejut sebanyak tiga kali dalam satu hari. Tapi, saya ucapkan terima kasih ya Allah telah membuat orang yang memilikinya membuang buku yang labelnya collectible ini, semoga anda merasa sangat menyesal.
























































