Jumat, 27 November 2009

Merindu Waktu Bersama



Rindu kalian semua bro ! Odd, cepet sembuh ya. Pulang aja ke Jogja, bed rest di rumah aja, enak kan. Kuliah mah bisa diatur kalo dah sehat lagi. Love you all, dude !

Sabtu, 21 November 2009

Andrei Arshavin


Robin Van Persie got an ankle injury and missed until early January 2010, what a mess! Now I've got to put my trust on you, Arshavin, my Russian Goalkeeperkiller ! Kill all those Goalkeeper, dude!

Rabu, 18 November 2009

Selamat



Panjang Umur-Panjang Rejeki
Doa saya untuk bahagianya

Kamis, 12 November 2009

Me In Illustration (Again)


Hiyahahaha..Maut dah shadownya !
Digital Illustration
CDR X3

Senin, 09 November 2009

Arsene is for Arsenal ! ONLY !



Arsene Wenger
Digital Illustration

Gocekan Dennis Bergkamp memukau saya saat masih duduk di bangku sekolah dasar, dan saya memutuskan meletakkan hati saya di tim ini dan memposisikan diri saya sebagai seorang fanatis yang sempit, yak....cukup Arsenal saja, tidak yang lain, terima kasih !

Jumat, 30 Oktober 2009

Photoshot Bersama Mereka

Post yang lumayan terlambat, waktu itu di bulan Ramadhan menjelang mudik. Seorang kawan meminta tolong untuk sekedar membekukan momen-momen dirinya yang bercengkrama (baca : berpose) bersama sahabat-sahabatnya. Pemotretan dilakukan di dua tempat, di bukit gersang dekat Undip Tembalang, dan rumah sahabat kawan saya. Panas dan haus terbayar dengan hasil yang memuaskan. Semoga berkenan, enjoy !











Lha ini kawan saya, mbak prita



Ini Rayi



Andin








********




Sesi Pemotretan di bukit gersang



Lha ini sopirnya! hahaha, beliau adalah fotografer sekunder, jepretannya maut juga !



Beralaskan koran

Selasa, 27 Oktober 2009

Seri Street Photography : Kota Lama Bagian 1
















Kota Lama dan seputar pasar johar menjadi lokasi tempat saya belajar street photography, tanpa persiapan, dan tanpa teman, hanya bermodalkan mood kebosanan akibat terlalu lama memandang skripsi. Enjoy, give comment !

Setelah Menonton The Wrestler

Mickey Rourke
Digital Illustration

Senin, 26 Oktober 2009

Sundak Terlalu Malam







Berencana mengambil foto bertema pantai nan cerah bersama keluarga, plus me"rayen" Nikon D40 milik kakak saya yang masih gres. Keberangkatan yang terlambat akibat terlambat bangun berakibat sampai Sundak terlalu malam.

All Images Photographed by Anantya Ariyudha using Canon EOS 450 D

Minggu, 04 Oktober 2009

Lebaran & Pesta Es Krim













































Senin, 14 September 2009

Pohon Ek dan Sepucuk Surat



Pohon Ek dan Sepucuk Surat

Hamparan rumput itu kembali menjadi hijau, seperti setahun yang lalu. Pohon ek yang dipenuhi dedaunan yang membuat serasa dipayungi mendung bagi siapa saja yang berteduh di bawahnya. Sesegera mungkin aku menuju ke bawah pohon ek, tak sabar merasakan sejuk rindang daunnya. Setiba di pohon ek, aku duduk, bersandar pada batangnya, melepas topi anyamanku, meletakkan sepucuk surat dari seorang sahabat pena, dan mulai menikmati desir semilir angin damai. Aku meraba – raba batang pohon, mencoba mencari bekas guratan tulisan, yang setahun lalu aku goreskan. Aku menemukannya, sudah mulai tumbuh kulit kayunya, tapi masih terbaca dengan samar. “Happiness”, begitu tulisannya, dan aku mulai mememori segalanya,setahun yang lalu, di tempat yang sama, di bawah pohon ek ini.

Aku bersandar di pohon ek, tersenyum melihatnya mengoleskan butter ke selapis roti tawar, menambahkan selada, keju lembaran, dan mustard ke atasnya. “Selesai ! Makanlah, sebelum aku makan, karena tampaknya ini sangat lezat!” katanya. Segera aku meraih sandwich itu dari tangannya, “Bagianmu yang berikutnya saja, ini begitu menggiurkan, hmmm!”. Dia meraih roti tawar kedua dan kembali mengolesinya dengan butter, menambahkan selada, keju lembaran, dan mustard ke atasnya. Kami mulai makan dengan nikmatnya, seakan lupa bahwa selada itu belum sempat dicuci. “Segar sekali” kataku sembari mengunyah, dan mustard meleleh jatuh ke karpet motif kotak-kotak hijau kuning yang mirip dengan motif kemeja flanel yang kukenakan. “ Janganlah kau berbohong hanya untuk menyenangkan hatiku!”katanya membalas. “Benar, ini yummy sekali, terenak selama hidupku!”. Dia menjulurkan lidahnya yang penuh mustard, “Bweeh” 10 menit kami menyelesaikan sesi kudapan sederhana itu, dan kami mulai membicarakan kehidupan yang tiada habisnya. “Bagaimana kabar pekerjaanmu?”, tanyaku. “ Wuiih, mengesankan sekali, ini yang sangat kudambakan, menyenangkan sungguh menyenangkan, bagaimana denganmu?”, katanya membalas pertanyaanku. “Melelahkan, tetapi ini juga yang aku damba, keinginan pribadi, benar-benar surga, hahaha”, tawaku terdengar keras. Lalu kami sempat diam beberapa detik, saling berpandangan mata, tapi tak lama dia menundukkan pandangan matanya. “ Hei, janganlah suka melihatku seperti itu, membuatku takut” sahutnya. “Kenapa, ini pandangan kekaguman, kekagumanku padamu”, ucapku, dan senyumku terkembang seperti bunga sakura di musim sakura. “Ah, biasa saja, apa yang mengagumkan dariku?”, tanyanya. Masih tersenyum, aku mengangkat kedua bahu, dan berkata, ”Entahlah, senyum lolipopmu, rambutmu yang hitam, bahasa tubuhmu, nada tertawamu yang lucu, kemeja yang kau kenakan, scarf polkadot-mu, semua memancarkan kebahagiaan!”, lalu dia menghela nafas dengan nada tidak percaya.

Mataku masih lekat memandang wajahnya. Tanpa terduga walaupun diharapkan terjadi, tangan kanannya meraih tangan kiriku, ibu jarinya mengelus lembut jemariku, tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Hening, keheningan ini berjalan beberapa detik, hingga beberapa menit. Mulutku terkunci, kepalaku mulai rontok berguguran di karpet kotak-kotak kami, aku tak paham yang terjadi, hanya gelora hangat di sekujur tubuh. Kutatap wajahnya, dan matanya bertemu mataku, dan dia tersenyum, manis, sangat manis, surga dunia ternyata juga ada di senyumnya, selain di telapak kaki ibu. Kepalanya direbahkan di bahu kiriku, pipiku bersentuhan dengan rambutnya yang hitam wangi apel. Kami tidak berkata-kata, tidak pula ber-euforia, tapi senyumannya, sentuhan tangannya, mengajarkan aku kebahagiaan, kebahagiaan yang aku lupa entah kemana selama ini bersembunyi.

Dia melihat arloji rantai di tangannya, menunjuk-nunjuk arlojinya dan kami beranjak dari karpet, membereskan segala yang berserakan di atasnya dan melipat karpet. Aku masih tak tahu harus berkata apa, begitu juga dirinya. Kami lagi-lagi berpandangan mata, masih berpegangan tangan. “Sini-sini”, dia memecah keheningan seraya mendekatkan kepalanya ke kepalaku. Sebuah kecupan di pipi kiriku, memompa jantung lebih cepat, naik ke kepala memerahkan pipi. Lama aku hening, dan akhirnya aku berkata, “ini terlalu hebat untuk terjadi.” Tak lama kami pun berpisah, lama sekali aku melepas genggaman tangannya, tidak ingin rasanya. Dia pergi ke arah selatan. Dikayuh sepedanya dengan kencang, dan aku ke arah utara, berjalan kaki. Beberapa ratus meter aku melangkah, aku mendadak menghentikan langkah dan segera berlari kembali ke pohon ek itu. Setibanya aku di pohon ek, kukeluarkan pisau pemotong selada dari tas punggungku. Kugores kulit pohon ek itu dengan pisau tadi. “Happiness”, begitulah bunyi dari goresan itu. Aku memasukkan kembali pisau itu ke dalam tas punggungku, dan bergegas jalan menuju utara, tanpa sadar aku menitikkan air mata, kebahagiaan atau kesedihan aku tak bisa memutuskan.

Kubuka mataku, mengambil pucuk surat yang tadi aku letakkan, mulai kubaca isinya, dan aku melihat senyumnya yang semanis lollipop, kurasa lagi kebahagiaan yang sama seperti setahun yang lalu. Kata-kata tidak bisa menggambarkan apa yang aku rasakan saat ini, seperti guratan kata pada pohon ek yang sudah tidak bisa lagi kurasakan dengan tanganku. Kurasakan Happiness jelas di kepalaku, seluruh tubuhku, dan aku bersyukur akan dirinya yang mengajarkan aku kebahagiaan.


Sabtu, 12 September 2009

Endah n Rhesa - Nowhere To Go



Nowhere To Go adalah album folk-accoustic yang bagus. Harmonisasi vokal Endah Widiastuti yang merdu dan kelihaiannya memetik gitar adalah (membuat saya iri) sentuhan yang aduhai, plus Rhesa Aditya, yang wajahnya mirip salah seorang kawan lama saya, sukses menjadi penjaga ritme yang sempurna, membuat kesemua track dalam album ini menjadi sesuatu yang jangan pernah dilewatkan. Duo yang aduhai ini mengisi Nowhere To Go dengan 11 track dengan berbagai nuansa mood yang berbeda-beda. Simak track pertama, "I Don't Remember" yang berkesan catchy, cuek dan melompat, atau "Blue day" yang sedikit beraroma psikedelik (menurut saya), atau nuansa romansa pada "When You Love Someone". Unsur klasik yang diberikan oleh dentingan piano dalam "Catch The Windlows" terasa manis, dan unsur bluesy yang diberikan Andre Harihandoyo pada gitar dan Yessi Kristianto pada Synthetizer dalam "Take Me Home" adalah bumbu yang sedap untuk memperkaya nuansa album ini. dalam album ini terdapat lagu "A Thousan candles Lighted" yang didedikasikan untuk Alm. Munir. Dengarkan "Thousand flowers bloom/every flower is a hope" yang bagus dan menginspirasi. Track "Living With Pirates" juga merupakan lagu dengan nuansa lain yang bercerita mengenai berpetualang bersama bajak laut, simak "And Weeeeee/Runaway/We Runaway/We RUuuuuun" yang epik sekali. Duo Endah dan Rhesa melahirkan album yang bagus dan merupakan album dengan kadar instrumen, vokal, dan lirik yang pas, serta memuat lagu-lagu dengan tema yang beragam. desain cover dan sleeve album juga menarik, ilustrasi ringan karya Rhesa dapat memberikan gambaran isi dari album ini. Saya meminjamkan jempol saya untuk duo ini.

Ernesto Guevara : Viva La Revolucion



Ernesto
Tribute to Che Guevara
Digital Illustration

Kamis, 10 September 2009

TIDURTAKBANGUNLAGI


Tribute To Mbah SuR.I.P.
Submission To Mandor Online Exhibition
Digital Illustration

Rabu, 09 September 2009

Man With The Red Fist


Man With The Red Fist
Digital illustration

PUKE !


PUKE !
Another Artwerk
Digital Illustration

Minggu, 06 September 2009

Karena Kesed adalah Welcome : Still Life Vol.2











Karena kesed adalah WELCOME
Maka mari membersihkan kaki kita

Still Life Vol. 2
Photograph by Anantya Ariyudha

Kamis, 03 September 2009

Ray Charles


Tribute to Ray Charles
Another artwerk

Terima Kasih Atas Dibuangnya Buku Ini



















Hari minggu itu disempatkan berjalan-jalan di seputaran Simpang Lima. Di kedua kalinya saya berputar, betapa terkejat-kejutnya saya melihat seonggok berlian yang tertutup lumpur sebelanga. Ya, buku semi-biografi yang berisi foto-foto eksklusif mengenai Michael Jordan, one of my fave basketball player (and so does everybody) tergeletak begitu saja di pinggir seorang penjaja majalah bekas. Tanpa banyak cing cong maricong, saya tanya saja harga buku itu, saya sempat berpikir, berapapun yang ditawarkan, saya bakal ambil karena saya pikir ini worthed sekali. Ternyata Bu Jamakas (Penjaja Majalah Bekas) tersebut menyebut harga Pangeran Pattimura alias 10.000 rupiah, saya semakin terkejet-kejut. Tanpa banyak berpikir untung-rugi-balik-modal, saya bayar saja, cash tanpa susuk. Sesampainya di kamar kos, saya mengamati, membaca dengan seksama, dan ternyata ada lagi yang membuat saya terkejat-kejut lagi, saya sama sekali tidak paham apa yang ditulis penulis di dalam buku ini. Bahasanya bahasa NIPPON CAHAYA ASIA !

Buku ini terdiri dari 6 chapter yang berisi mengenai perjalanan hidup dan karir Michael Jordan (walaupun saya hanya melihatnya dari foto-foto yang menawan itu). Mulai dari Michael Jordan saat masih menjadi rookie musim 1985-1986, hingga saat Michael akhirnya memutuskan untuk mengakhiri karirnya bersama Washington Wizard (akhirnya Michael menjadi salah satu direktur di Washington Wizard karena kepemilikan sahamnya).

Betapa mautnya buku ini sehingga membuat saya terkejat-kejut sebanyak tiga kali dalam satu hari. Tapi, saya ucapkan terima kasih ya Allah telah membuat orang yang memilikinya membuang buku yang labelnya collectible ini, semoga anda merasa sangat menyesal.

Rabu, 02 September 2009

Tribute To Nacho Libre


Nacho The Luchador
Another Artwerk

DVD Nacho Libre ku mana ?