Laman

Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Februari 2011

1-3

Turkmenistan 3 Indonesia 1. Yak, hasil akhir yang cukup tidak mengejutkan (walau mengecewakan). Mengapa ? Semenjak bola di kick-off, pemain Indonesia sering tidak lengket saat men-dribble bola dan seringkali terburu-buru melepas umpan atau pass. Terlihat kikuk kalau tidak bisa dibilang kurang konsentrasi (atau bingung). Terutama dalam melakukan counter attack, dimotori Okto Maniani, Indonesia sering melakukan umpan silang yang dengan mudah diantisipasi defender Turkmenistan, terburu-buru melambungkan bola ke depan, dan memaksakan diri men-dribble menusuk jantung pertahanan. Saya sempat berharap Indonesiabisa memenangkan match ini, melihat kengototan pemain-pemain yang okepunya, dan kesempatan (yang seharusnya bisa lebih dari 1 gol) yang didapat. Tetapi bola bergulir setiap detik dalam permainan, sehingga kelengahan yang sedikit sekalipun dapat menjadi blunder, seperti gol kedua dan ketiga Turkmenistan. Apapun itu, apapun hasilnya, saya tetap bangga dan akan terus mendukung sepakbola Indonesia. Yuk mari latihan lebih keras lagi, saya percaya Garuda Muda pasti bisa unjuk gigi. Akhir kata, TURUNKAN NURDIN HALID !

Selasa, 22 Februari 2011

Nurdin Ada Untuk Dilawan


Nurdin Halid. Fenomena yang ajaib, yang akhir-akhir ini mencuat jadi pemberitaan di mana-mana. Tulisan ini murni opini saya akan fenomena Nurdin ini. Sungguh muak saya merasa, olahraga diwarnai nuansa politis. Nuansa yang sangat berlawanan dengan semangat olahraga itu sendiri, yakni sportivitas. Sungguh saya merasa bingung, melihat Nurdin yang sebegitu kuatnya mempertahankan kekuasaannya (baca: tirannya) sebagai ketua umum PSSI. Apa yang jadi udang di balik batu? Yaaa, kalau boleh menduga dan menebak, duit yang berputar di PSSI terlalu besar untuk sekedar ditinggalkan (baca: ditinggal lengser). Tebakan saya yang kedua, kalau-kalau Nurdin lengser, ditakutkan borok-borok Nurdin yang ditutup jadi luka yang lebar menganga. Sungguh saya tidak tahu dan hanya asal menebak. Hal lain yang lucu dari fenomena Nurdin ini adalah gagalnya George Toisutta dan Arifin Panigoro dari proses verifikasi sebagai calon ketua umum PSSI periode mendatang. Ah, capek saya menebak-nebak alasan di baliknya. Sudahlah, hal-hal lucu ini membuat saya semakin malas dengan Nurdin ini. Wong ya sepakbola itu olahraga milik orang banyak (rakyat), mbok ya dituruti aja maunya rakyat. Kan gampang. Saya cuma kasihan melihat cekcokmaricok ini memakan korban, yakni pemain sepakbola Indonesia, dan semua yang berkorban demi sepakbola beserta sportivitasnya. Ingat Nurdin, besi ada untuk berkarat, tiran ada untuk dilawan. Lepaskan kepalan ke udara untuk mendukung tidak terpilihnya Nurdin Halid.

Kamis, 02 Desember 2010

ISTIMEWAH

Tulisan ini akan saya awali dengan sedikit senyum simpul untuk menyikapi sebuah pernyataan Bapak Presiden Indonesia mengenai keistimewaan DIY dalam konferensi persnya hari apa saya lupa. Sungguh saya tidak bisa mengerti apa yang dimaksudkan oleh Presiden Indonesia mengenai monarki di DIY dalam pemerintahan yang demokratis di Indonesia. Apakah maksud beliau menandingkan sistem monarki dengan demokrasi ? atau mengungkapkan betapa tidak cocoknya monarki dalam pemerintahan yang demokratis, sepeti layaknya duri dalam daging ? saya tidak mengerti. Walaupun saya tidak mendalami secara serius berkaitan dengan hal ini, tetapi ijinkan saya sekedar berbagi reaksi karena saya merasa tidak bisa diam saja mendengar hal ini (walaupun saya tidak ikut unjuk rasa atau aksi semacam).
Seorang teman berkata pada saya, "jarke wae ngono lho, wong jogja kan sakdurunge yo tentrem-tentrem wae, malah dirusuhi masalah keistimewaan barang, kurang gawean." Teman saya sepertinya ingin berkata bahwa sebelum adanya ribut-ribut masalah keistimewaan seperti sekarang ini, masyarakat Jogja sudah tentram, adem-ayem, dan tidak masalah dengan status keistimewaan yang dimiliki Jogja. Saya pikir ada benarnya, toh Jogja selama ini tidak pernah ada ribut-ribut perebutan kekuasaan setingkat provinsi, atau kampanye kepala daerah yang bakalan menghabiskan berpundi-pundi rupiah, dan saya pikir itu istimewa. Sungguh penunjukan otomatis Sultan dan Pakualam sebagai gubernur dan wakilnya adalah sebuah mekanisme yang istimewa dan tidak kurang suatu apapun.
Saya membaca koran lokal Jogja pagi hari ini mengenai seorang Jubir Kepresidenan yang berkata bahwa rakyat salah persepsi mengenai pernyataan Pak Presiden Indonesia. Nah, ini satu lagi yang membuat saya tersenyum simpul sedikit manis. Rakyat Indonesia atau katakanlah Jogjakarta yang sedemikian banyaknya bisa salah mempersepsikan pernyataan Seorang Presiden, lalu siapa yang salah persepsi sebenarnya ? hanya masalah persepsikah ? atau masalah beda pemahaman keistimewaan Jogja diantar pihak yang mengalami dan pihak yang mengatur ? Saya tidak habis pikir, buat apa merevisi UU keistimewaan yang sudah dijalankan sedemikian lama dan tidak berdampak negatif bagi masyarakat. Ada motif apa sebenarnya, sungguh saya tidak mengerti. Monarki di Jogja sudah berjalan seiiring dengan perubahan monarki itu sendiri, dimana dengan adanya otonomi daerah dibawah provinsi membuat monarki bertransformasi menjadi monarki yang lebih konstitusional dan demokratis. Di luar monarki atau demokrasi, saya pikir tidak ada salahnya seorang raja ber-sendika dawuh dan rakyat mematuhi dawuh rajanya selama itu baik adanya. Apalagi memang terbukti dawuh raja adalah bertujuan memajukan kesejahteraan rakyatnya, dan sekali lagi tidak berdampak negatif. Malah kalau-kalau RUUK DIY disahkan, saya tidak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi kepada rakyat yang bingung bakalan mengikuti keputusan gubernur atau dawuh raja. Atau malah bisa lebih parah lagi, tidak bakalan ada gubernur yang terpilih karena rencana boikot sejumlah paguyuban masyarakat kalau-kalau ada pemilihan gubernur. Nah lho ! Remuk sisan !
Saya mencermati polemik yang ada mengenai keiistimewaan DIY ini sebenarnya tidak perlu berlarut-larut. Peduli setan dengan kekuatan politik Sultan yang bakalan dibatasi dengan RUUK DIY, peduli setan dengan tidak adanya anggaran pemilihan gubernur, atau peduli setan juga dengan monarki vs demokrasi. Mengapa oh mengapa ketentraman yang ada tidak cukup dipelihara saja, lha wong sebenarnya itulah yang dicari dari sebuah kehidupan dari sebuah masyarakat. Cukup dengarkan apa kata rakyat, karena bukankah demokrasi itu dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat ? Kalau rakyat berkehendak raja tetap memimpin, mbok ya didengarkan, itu kan namanya demokrasi, ya toh!

Salam tiga jari untuk anda semua !

Tulisan ini adalah sarana berbagi, jadi monggo pinarak kalau pengen diamuk, dicaci, didukung, atau diidoni ! Monggo !