Laman

Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Mei 2010

Saya Terpukau Oleh Mas-mas Ghaust



Setelah hanya membaca review, artikel dari beberapa situs dan majalah, akhirnya saya bisa menikmati seperti apa sound of ghaust itu sendiri melalui CD ghaust yang saya order lewat omuniuum (saya termasuk terlambat menyimak musik Ghaust), sebuah toko online yang sangat saya percaya. Dan tebak saja, ajaib sekali apa yang keluar dari cakram Ghaust. Purba, berat, catchy, atmospheric, atau apalah yang bisa menggambarkan suara Ghaust. Langsung saya teringat Boris dengan kadar kecepatan yang lebih pelan, atau Corrupted atau Pelican, seperti yang tertera di stiker bening di plastik pembungkus. Rilisan yang langsung menjadi favorit saya, sound yang heavy dan menurut saya, inilah penantian telinga saya akan sesuatu yang lamban nan berat nan purba nan indah lebih indah dari impian saya akan sound Snail yang heavier, sound Behold ! The Monolith yang lebih catchy, sound Boris yang lebih pelan, sound Corrupted yang lebih melodius. Berlebihankah saya, terserah saja, karena Ghaust cocok dan lekat di telinga saya seperti celana renang speedo yang dipakai Michael Schumacher untk ngebut 200 km/jam menunggangi Mammoth di belantara hutan yang penuh kawanan Triceratops, di padang gurun yang penuh elang pemakan bangkai, di lautan tenang dengan Nesse di dalamnya. Ya, terima kasih Ghaust, untuk rilisan yang bagus. Saya menyesal baru saja mengenal anda. Haha !

Minggu, 21 Maret 2010

BLACKLIGHT REPACKAGE

Sebagai seorang penggemar, ijinkan saya berbagi kata-kata untuk album "blacklight" repackage KOIL yang baru saja dirilis oleh Nagaswara. "Blacklight" adalah repackage album KOIL bersama Apocalypse Records yang pada 2007 bertajuk "Blacklight Shine On", tapi kali ini KOIL merilis album ini bersama Nagaswara, sebuah major label yang telah mengorbit banyak artis masa kini. Apakah langkah hijrah ini mengkhianati kepercayaan DIY yang telah dijalankan KOIL selama bertahun-tahun (merilis 3 full album dengan bendera Apocalypse Records) ? Bagi saya, ini adalah langkah signifikan bagi KOIL untuk meraih pendengar yang lebih massal. Karena saya percaya sudah saatnya KOIL didengar oleh lebih banyak penikmat musik, atau dengan kata yang hiperbol, sudah saat nya KOIL mendunia ! toh, bagi saya yang selalu akan mengikuti perkembangan musikalitas KOIL, membeli merchandise, dan insya Allah selalu menonton konser KOIL, apapun yang terjadi, Vive Le KOIL dah ! Kembali ke album "blacklight", terdapat tambahan 2 lagu baru (Aku Rindu, Suaramu Merdu) dan 2 remix (sistem, luka). Saya tersenyum saat pertama mendengar bagaimana "sistem" di-remix sedemikian rupa, menjelmakan KOIL menjadi sebuah set Trance yang menggoda kepala untuk terus trippin, seperti mendengar Benny Bennazi disulut gumaman Otong yang sinis. Lain lagi dengan "luka" dengan drum and bass yang kental, sebuah ramuan ajojing ala echoplex-nya NIN dengan rpm yang lebih tinggi. Sedangkan 2 lagu lain yang sebenarnya sudah pernah saya dengar sebelumnya adalah tambahan yang bagus untuk sebuah repackage. Cover blacklight kali ini memang terlihat lebih sangar dengan teknik kolase andalan kang Otong, seakan-akan cover blacklight shine on yang robek disatukan kembali menggunakan tape, hal ini lain dengan tampilan packaging luar yang sangat menggoda secara visual bagi orang untuk penasaran, lebih kinclong, walaupun saya tetap lebih menyukai cover dan packaging blacklight shine on. Akhir kata, saya akan selalu menantikan yang akan dilakukan KOIL selanjutnya, apakah merilis album baru, merilis single, video klip, atau apapun. Dengan rilisnya "blacklight" di bawah Nagaswara, mungkin sudah saatnya KOIL menjadi kaya dari aktivasi RBT (itupun kalau salah satu lagu KOIL masuk dalam 100 list single Nagaswara terlaris yang saya dapatkan sewaktu membeli blacklight). Salam !



Sabtu, 12 September 2009

Endah n Rhesa - Nowhere To Go



Nowhere To Go adalah album folk-accoustic yang bagus. Harmonisasi vokal Endah Widiastuti yang merdu dan kelihaiannya memetik gitar adalah (membuat saya iri) sentuhan yang aduhai, plus Rhesa Aditya, yang wajahnya mirip salah seorang kawan lama saya, sukses menjadi penjaga ritme yang sempurna, membuat kesemua track dalam album ini menjadi sesuatu yang jangan pernah dilewatkan. Duo yang aduhai ini mengisi Nowhere To Go dengan 11 track dengan berbagai nuansa mood yang berbeda-beda. Simak track pertama, "I Don't Remember" yang berkesan catchy, cuek dan melompat, atau "Blue day" yang sedikit beraroma psikedelik (menurut saya), atau nuansa romansa pada "When You Love Someone". Unsur klasik yang diberikan oleh dentingan piano dalam "Catch The Windlows" terasa manis, dan unsur bluesy yang diberikan Andre Harihandoyo pada gitar dan Yessi Kristianto pada Synthetizer dalam "Take Me Home" adalah bumbu yang sedap untuk memperkaya nuansa album ini. dalam album ini terdapat lagu "A Thousan candles Lighted" yang didedikasikan untuk Alm. Munir. Dengarkan "Thousand flowers bloom/every flower is a hope" yang bagus dan menginspirasi. Track "Living With Pirates" juga merupakan lagu dengan nuansa lain yang bercerita mengenai berpetualang bersama bajak laut, simak "And Weeeeee/Runaway/We Runaway/We RUuuuuun" yang epik sekali. Duo Endah dan Rhesa melahirkan album yang bagus dan merupakan album dengan kadar instrumen, vokal, dan lirik yang pas, serta memuat lagu-lagu dengan tema yang beragam. desain cover dan sleeve album juga menarik, ilustrasi ringan karya Rhesa dapat memberikan gambaran isi dari album ini. Saya meminjamkan jempol saya untuk duo ini.

Rabu, 02 September 2009

Anda - In Medio



Setelah sekian lama mendengar Anda bernyanyi Tentang Seseorang, akhirnya Anda, seorang anggota Bunga dan anak dari pemandu kuis yang populer di 80-an, mengeluarkan full album solo bertajuk In Medio. Akan sangat sulit memberi label pada rilisan ini, rock, pop, jazz, atau alternatif,karena In Medio berisi 13 Track sarat warna, mulai blues rock pada "Bias Senja", Jazz Bossa pada "Dalam Suatu Masa", folk romantis pada "Asmara Sendu". "Biru" adalah track yang elegan dengan Indra Lesmana pada Hammond-nya dan Aksan Sjuman pada drum, "Dalam Peluk Shiva" berkesan megah sekaligus menyayat. Yang menarik adalah dimasukkannya unsur perkusi, kendang, dan ceng pada "Full Moon Tonight" dan "Dalam Suatu Masa", sangat ekletik. Anda menulis lirik pada setiap lagu kecuali pada "Pusaran dan "Moi Et Toi". Perhatikan lirik, "Dalam nafasmu ku kan meraung..Bersama nafasku kau menyatu" (dalam "ML") yang bergairah, atau " Asmara sendu, pasangan alam deja vu, takdir dunia ungu" (dari "Asmara sendu") yang romantis, dan "Pernahkah kau malu pada dirimu itu, hingga kau ingin lari dan ingin bersembunyi" (pada " Cukup Dalam Hati) yang introspektif. Singkat kata, In Medio merupakan album yang kaya warna, diaransemen dengan bagus, dan cukup memperkenalkan Anda sebagai penyanyi solo lintas genre dengan suara yang meliuk-liuk dan musik yang brilian. Mengutip Hasief Ardiansyah dalam reviewnya di Rolling Stone (Ed. 46, Feb 2009) "In Medio mungkin tidak akan meledak dalam segi penjualan, tapi akan setidaknya album ini telah memperkenalkan Anda sebagai artis solo yang hebat", jadi ini adalah album yang bagus dan kita tak perlu mengernyitkan dahi untuk sekedar memahami musik Anda, karena In Medio seperti air yang kadang mengalir dan kadang menjadi ombak.