Laman

Selasa, 30 Desember 2008

Malam Minggu di Semawis

Malam minggu pertengahan Desember. Setelah kecewa melihat Tim Indonesia yang bermain sangat buruk di AFF Suzuki Cup melawan Thailand, maka saya memutuskan untuk sekedar berjalan-jalan, menyambangi Semawis. Semawis, terletak di daerah Pecinan Semarang, Jalan Gadjah Mada, belok kanan di perempatan Kranggan, merupakan sebuah area pertokoan di siang harinya dan di malam hari (malam sabtu, malam minggu, dan malam senin) menjelma menjadi sebuah suasana hiruk pikuk yang temaram meriah dengan berbagai kios, warung dan macam-macam hiburan. Sangat disayangkan malam itu hari hujan, jadi kurang puas rasanya kurang lama saya berjalan-jalan di Semawis yang baru pertama kali saya kunjungi setelah sekian lama saya di Semarang.

Malam itu keramaian terpusat di salah satu panggung yang ditempati sebagai arena lomba karaoke. Panggung tidak seberapa besar, sound system seadanya, MC yang berpakaian seperti Cinderella, peserta yang sampai 25, Andy F. Noya hadir meramaikan, tapi satu hal yang membuat saya sangat terkesan, antusiasme warga dan peserta luar biasa (walau hari hujan). Lupakan Indonesian Idol, Dangdut Mania, atau apapun pencarian bakat menyanyi di televisi, ini lebih asyik ! Dari Hokkian, Bryan Adams, Whitney Houston, sampai The Legend of the Condor Heroes (sebenarnya saya tak tahu judul lagunya) menyanyi di lomba itu. Hasil akhirnya, seorang Cicik yang masih muda dan cantik menjadi pemenang, mendapatkan hadiah sebuah mobil Honda CR-V (saya cuma bercanda). Malam minggu di Semawis, suatu hiburan yang sangat menarik bagi saya dan kedua teman saya, Bolang dan Dongkey. Saya pasti kembali lagi untuk menyambangi Semawis, karena saya masih penasaran dengan Kokoh pelukis cepat bersenjata kuas dan tinta cina.

















Rabu, 10 Desember 2008

Acid Segar Dari Lubang Hidung


lampu temaram kuning merah memancar dari empat sudut
cahayanya mendera mata terseret-seret membentuk garis yang sejajar dengan pelipis
suara lebah mendengung di telinga kiri seraya menarik kesadaran ke ruang bawah tanah yang lembab
sedang di telinga kanan hanya terdengar suara nging yang panjang

gendang telinga kananku sobek
pelipis mata membesar sebesar tempurung kelapa penutup payudara penari polynesia

kaki terasa menjejak lumpur
padahal ini adalah kanvas

lutut kiri bergetar tak beraturan menolak perintah untuk tegak
pinggangku terasa hilang perlahan

tetapi mata kananku masih bisa melihatnya dengan jelas
arah geraknya, potongan rambutnya, baju yang dikenakannya

kedua tanganku steady
kesadaranku maksimal
nafasku teratur
siap menerima segala yang akan dia berikan

liver blow !
dia menghujamkan liver blow ke rusuk kanan
bunyi krakk pertanda patahnya sekitar enam tulang rusukku

belum sempat aku menikmati sakit patahnya rusukku

uppercut !
dengan tangan kanannya, dia lancarkan uppercut
yang dengan sukses menggeser dagu 2 sentimeter ke kanan
geraham dan taring serta beberapa gigi seri terbebas dari gusi

belum sempat aku menikmati bergesernya daguku

jab !
jab tangan kanannya meluncur bagaikan sommersault
keras dan tentu saja cepat
tepat ke tulang hidung
mematahkannya dengan selamat
dengan sesegera mungkin acid segar warna kuning citrus beraroma lemon mengalir dari lubang hidung
sangat segar

dengan segera aku mencari nafas di sekitar kepalaku
mencoba bernafas melalui mata, karena hidung terlalu penuh dengan acid yang kental

aku mengumpulkan kesadaran yang tercecer bersama gigi-gigiku yang lepas
tetapi kepala serasa vertigo

mata kananku masih melihat dirinya dengan jelas
dengan senyumnya yang semanis lolipop, dengan tawanya yang riang

tapi aku menolak melempar handuk

Kamis, 04 Desember 2008

Berharap Menemukan Ujung Yang Selesa







Selalu hadir
menimang sayang
membelai pipiku
membunuh logika
menikam jantungku berkali-kali
memukul rongga dadaku dengan keras
mencekik tenggorok dengan sadis
tapi ini nikmat
senikmat menemukan ujung yang selesa


Canon EOS 450 D
EFS 18-55 mm 3.5-5.6 IS
Lampu meja belajar
Neverland, Kota Temaram
Tengah Malam